Judi

Cerpen: Ulang Tahun Sinta by Niam A

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Ulang Tahun Sinta

(Niam A)

Mungkin bukan momen seperti sweet seventeen, juga bukan seperti momen tinjak tanah, karena Sinta sudah berumur 18 tahun sejak tengah malam tadi. Tak ada perayaan khusus, tapi momen pertambahan umur selalu dianggap istimewa. Evaluasi untuk satu tahun sebelumnya dan resolusi untuk satu tahun berikutnya. Dan terkadang, sekedar ucapan, apalagi sampai dikasih kado adalah satu hal yang ditunggu-tunggu. Tak perlu semua orang, cukup dari beberapa yang terasa khusus saja. Rasanya, sudah cukup mewakili bahwa orang-orang tertentu itu masih mengingat hari kelahirannya. Hari dimana, diri sendiri jadi merasa begitu spesial.
Tapi, pagi ini Sinta justru kelihatan tak bergairah.
“Hei sayang, selamat ulang tahun ya!” Sambut Rida di bangkunya, sahabat Sinta itu sengaja berangkat pagi-pagi sekali demi mengucapkan selamat ulang tahun pada sahabatnya itu.
Sementara Sinta hanya tersenyum simpul.
“Ini!” Rida memberikan bungkusan kado, “Tapi nanti saja bukanya di rumah!”
“Makasih ya!” Sinta kembali tersenyum simpul, seolah dipaksa.
Rida menangkap ada yang aneh dengan sahabatnya itu. Rasa penasaran itu buru-buru ditanyakannya. Tapi Sinta hanya memberikan jawaban gelengan lemah lalu menidurkan kepala di atas meja.
Rida tak menyerah, “Papa Mama lupa?”
“Seperti biasa mereka sudah merayakannya tengah malam tadi dikamarku!”
“Mas mahasiswa itu?”
“Sudah juga, bukan hanya dia, bahkan tengah malam tadi banyak pesan masuk, lebih banyak dari tahun lalu sampai belum sempat kubaca semua!”
“Lalu?”
Sinta diam, bibirnya gemetar ingin menyebut nama Luki. Tapi malu, takut, campur aduk. Rida bisa ketawa jika tahu alasan Sinta lesu adalah adik kelas yang satu itu. Kenapa Luki? Kenapa harus Luki yang menjadi alasan itu? Dari sekian banyak pesan masuk tak ada satupun nama kontak yang bertuliskan Luki. Masak anak itu tidak tahu sih? Tidak, dia sudah tahu! Tempo hari dia diberi tahu Sinta. Lalu kenapa? Lupa? Mungkinkah? Jika benar demikian, itu tandanya Sinta belum begitu istimewa bagi Luki. Jika istimewa, segala sesuatu tentang Sinta pasti diingat pemuda itu. Buktinya Sinta ingat kapan hari ulang tahun Luki, sebaliknya, Luki tak ingat apapun soal Sinta.
Oh ya, siapa sih Luki. Bagi yang penasaran siapa sih Luki? Bisa kenalan dulu di Kenalin, Luki!

Kadang Sinta bingung sendiri, akhir-akhir ini dia sering uring-uringan hanya karena Luki. Sebenarnya, Luki itu niat buat deketin nggak sih? Kalau orang deketin itu pasti romantis, dan manis, nah ini Luki? Seperti waktu itu, masak saat janjian jalan, Sinta sudah bela-belain dandan berjam-jam, wajahnya ber-make up mewah tapi nggak norak, pakai baju baru, pakai gaun dan sepatu hak tinggi, berusaha tampil secantik mungkin, eh Luki malah cuman pakai kaos oblong, dan celana jeans, sudah gitu pakai sendal jepit lagi. Cukup membuat Sinta bengong beberapa detik.
Kalau cowok lain pasti sudah muji Sinta saat pertama melihat Sinta dandan cantik seperti itu. Lha Luki? Dia tanpa basa-basi langsung saja ngajak berangkat. Cuman makan jagung bakar di pinggir jalan, bukan di cafe romantis seperti bayangan Sinta. Sinta jadi terus cemberut selama kencan itu. Bayangkan, pakai gaun makan jagung bakar? Anehnya Luki cuek saja tanpa merasa bersalah, malah asyik menikmati lalu lalang kendaraan, sambil sesekali tanya Sinta “Nggak mau jagungnya?”
Benar-benar nggak peka kan? Tapi entahlah, seberapapun kecewanya Sinta, seberapapun jengkelnya Sinta pada Luki. Makhluk satu itu sering tiba-tiba muncul dengan caranya yang manis. Memberikan yang Sinta butuhkan meski Sinta sendiri tak sadar sedang butuh. Seperti saat Luki memberikan jaketnya untuk menutupi tubuh Sinta ketika terjebak hujan di bawah jembatan fly over. Namun, kalau sudah sampai lupa hari ulang tahun Sinta, rasanya sudah sangat kelewatan untuk ukuran seseorang yang sedang melakukan pendekatan. Tak bisa ditolerir lagi.
Atau mungkin Luki sengaja akan membuat surprise? Sengaja tak memberi ucapan selamat hanya untuk memberi momen kejutan. Benarkah? Bisa saja, bukan? Dan harapan Sinta demi menunggu kejutan itu berkembang, rasa lesunya berkurang. Dia masih bisa lebih sabar lagi menunggu.
***
Sinta semakin lesu saat sampai di rumah, bukan hanya karena dia belum makan seharian. Gara-gara Luki belum juga memenuhi harapan Sinta. Tapi, sesampainya di rumah, Sinta merasa sedikit terhibur. Ternyata, keluarga dan teman-teman sekelasnya menyiapkan surprise party di rumah. Edwin, Kemal, dan Panca juga datang. Katanya sih ini ide mereka. Masih belum jelas siapa pencetusnya, hanya saja mereka terlihat tidak akur lantaran masih memperebutkan ini ide siapa. Itulah tiga cowok keren yang terkenal kaya di sekolah. Mereka bertiga memang saingan berat buat rebutan Sinta sejak kelas sepuluh. Mereka berlomba-lomba memberikan hadiah mewah dan mahal untuk Sinta. Perhiasan. Sebenarnya yang berulang tahun berat untuk menerima, tapi menolak juga jadi tak enak hati. Itu kan hadiah mahal semua, dan rasanya terlalu berlebihan. Ya meski untuk kantong ketiga cowok keren itu, perhiasan mewah itu bukan apa-apa.
Kebahagiaan Sinta sebentar saja. Saat pesta berakhir, semua sudah pulang dan Sinta kembali sendiri di kamar, rasa sedihnya kembali. Wajah cantik itu kembali murung sambil memandangi bintang dari jendela. Rasanya Sinta begitu bodoh, banyak sekali laki-laki yang mati-matian berusaha merebut hatinya. Bahkan sampai memberikan apapun demi meluluhkan hatinya. Tapi gadis itu justru menunggu seseorang yang tak jelas juntruangannya. Apa sih lebihnya Luki? Masih banyak yang lebih hebat dari dia.
Tiba-tiba sebuah kertas berkali-kali terlihat melayang menerjang jendela kamar Sinta yang ada di lantai dua, sempat membuat gadis itu takut juga. Tapi saat memberanikan melirik, ternyata itu perbuatan Luki. Ngapain anak itu malam-malam melempari jendela kamar Sinta? Belum cukup puas dia membuat hari ulang tahun Sinta terasa buruk? Akhirnya kertas itu masuk juga ke kamar Sinta. Sebenarnya malas, tapi saat dibaca Luki memintanya untuk turun. Apa? Turun? Tentu saja malas! Enak saja nyuruh turun setelah dibuat jengkel seharian!
Tapi toh hati wanita sering tak sama dengan yang dilakukan, rasa penasaran Sinta membawanya turun juga. Selain itu dia sengaja ingin mendamprat Luki habis-habisan. Mata sudah merah, melotot galak, tapi saat akan membuka mulut untuk marah-marah, Luki sudah mendahului.
“Gimana? Sudah jadi yang terakhir kan? Selamat ulang tahun ya Sin!” Senyum polos tanpa rasa bersalah mengembang di bibir Luki.
“Ini aku bikinin kue! Bentar, aku nyalain lilinnya! Ternyata, susah juga ya bikin kue! Aku sampai berkali-kali beli bahan. Untung ada Mbak Paris yang mau bantuin. Semoga saja enak! Kamu nggak apa-apa kan makan yang manis-manis! Aduh, mestinya nggak kukasih gula! Nanti tambah manis kalau kamu yang makan!” Mendengar penuturan Luki yang tulus itu hati Sinta yang tadinya panas jadi luluh, air matanya tiba-tiba meleleh haru. Jadi, seharian Luki nggak ada kabar cuman buat nyiapin kue ini. Anak lelaki ini sengaja bela-belain bikin kue buat Sinta?
Melihat Sinta menangis, Luki jadi bingung. “Lhoh kok nangis? Astaga, padahal belum nyicip kueku sudah terasa nggak enak?”
Yah, sedikit bisa ditebak, mengakhiri malam itu dua insan itu menyantap kue sambil menikmati bintang. Saat sudah jam sepuluh malam Luki pamit pulang. Sinta heran, Luki bawa motor Paris, tapi kenapa malah didorong?
“Iya, kehabisan bensin! Kebetulan uangku sudah ludes! Eh, sori, kelepasan!” Paris sengaja tak menolong Luki, tak meminjami uang untuk membeli bensin, itu hukuman untuk Luki agar mendorong motor sampai rumah. Toh nggak begitu jauh rumahnya. Hukuman yang pantas untuk Luki karena sudah membuat Sinta kacau seharian dan dengan seenaknya memberikan ending manis di hari ulang tahunnya. Ending yang cukup bisa membuat Sinta bermimpi indah malam ini. Mungkin Luki nggak seperti yang lain, yang bisa ngasih sesuatu yang berharga, sesuatu yang bernilai jutaan lantaran mereka memang punya milyaran uang. Tapi, Luki itu lelaki yang memberikan seratus ribu dari seratus ribu yang ia punya. Sambil tersenyum memandangi punggung Luki yang semakin tak kelihatan, dia jadi penasaran dengan kado yang diberikan Luki saat sebelum pulang. Kado yang dimintanya membuka saat sudah di dalam rumah, di dalam kamar. Saking penasarannya, Sinta nekat membuka meski masih di luar. Tiba-tiba dia memekik, meneriaki nama Luki kencang sekali. Isinya bunga tujuh rupa, dan ada kartu ucapan yang bertuliskan, ‘Biar nggak kalah kayak yang lain yang cuman bisa ngasih satu macam, kamu kukasih 7 macam bunga sekaligus! Keren bukan?’

Untuk Cerpen Luki lainnya seperti Gerakan Bersepeda dapat dilihat di blog Lukiluck

Penulis: Niam A
Motto: Bukan Hero, bisa salah, pernah patah hati, tapi nggak cengeng
Blog: www.lukiluck.com
================================================

~ Editor ~
Terimakasih kepada Niam A (Guest Post) yang telah mengirimkan Karya cerpennya. jika ingin karya anda seperti cerpen/artikel/pantun/puisi/lain-lain dipajang di blog ini, silahkan pergi KESINI untuk cara dan ketentuannya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Agen

Leave a Reply