Judi

Cerpen: Kijang Yang Tidak Bersyukur By Purwanto

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Kijang Yang Tidak Bersyukur
(Purwanto)

Suatu hari, seekor kijang yang tampan sedang berjalan-jalan dalam sebuah hutan yang lebat. Kijang itu berjalan seenaknya, sambil sesekali memakan dedaunan semak, rerumputan dan buah-buahan liar. Tanpa disadarinya ia sampai di tepi sebuah sungai yang mengalir membelah hutan. Sungai itu kecil dan berair jernih.

Si kijang yang agak haus mendekati sungai itu dan meminum airnya yang segar. Sedang dia asyik minum, terpandang olehnya pantulan dirinya di permukaan air. Ditunggunya riak air menjadi tenang, hingga bayangannya terlihat jelas.

“Hm… alangkah gagahnya aku, parasku rupawan. Tandukku besar dan bercabang-cabang. Badanku tampak tegap dan kokoh.”

Namun kijang itu tampak murung ketika memandang bayangan kakinya di air. Lalu dia menunduk, menengok kaki-kakinya.

“Sayang sekali, kakiku terlalu kecil. Seharusnya aku berkaki besar dan kuat, agar serasi dengan badanku,” pikir kijang itu sedih. “Tapi aku tak bisa mengubahnya. Selamanya akan kumiliki kaki yang jelek ini.”

Lalu kijang itu meneruskan minumnya. Tak lama, tiba-tiba kijang itu mendongak, wajahnya tegang dan telinganya tegak. Tercium olehnya bau yang asing di hutan itu, namun dikenalinya dengan baik, bau manusia. Benarlah, ketika ia menengok, seorang pemburu sedang merunduk membidiknya dengan sebatang tombak. Si kijang meloncat bersamaan pemburu itu melemparkan tombaknya, yang luput dan menancap ke pangkal sebuah pohon.

“Aaah!” si pemburu berteriak kecewa.

Tak membuang waktu, kijang itu berlari menerobos semak-semak. Larinya gesit dan cepat sekali. Kadang ia meloncat untuk menghindari batu, lubang atau batang pohon yang tumbang. Kijang itu menengok ke belakang. Dilihatnya pemburu itu mengejarnya, mengacu-acukan sebilah parang. Rupanya pemburu itu tidak sempat memungut tombaknya.

Kijang itu terus berlari. Cepat sekali, hingga kakinya seperti tidak menapak tanah. Si pemburu terus mengejar, ia berlari sekuatnya, namun semakin lama ia makin tertinggal. Kijang yang tahu bahwa ia semakin jauh dari pemburu terus berlari. Ia ingin berlari sejauh-jauhnya agar benar-benar aman dari kejaran pemburu.

“Untunglah aku bisa berlari secepat dan segesit ini. Rupanya kaki-kakiku yang kecil ini sangat berguna. Aku menyesal telah menginginkan kaki yang lebih besar. Tentu aku tak akan bisa berlari secepat dan selincah ini,” pikir si kijang.

Si kijang berlari hingga suatu saat ia menjumpai sebatang pohon besar yang tumbang. Pohon itu besar dan panjang, sehingga akan memakan waktu jika kijang itu berbelok memutarinya. Si kijang memutuskan untuk berlari terus. Ia meloncat setinggi-tingginya melewati pohon tumbang itu. Malang, saat meloncat tak sengaja tanduknya yang bercabang-cabang tersangkut ranting-ranting dari sebuah cabang pohon yang rendah. Kijang itu meronta-ronta, berusaha melepaskan tanduknya dari ranting pohon.

“Aduh, bodohnya aku, ternyata tanduk indah yang kubanggakan ini sekarang menyusahkanku!” sesal kijang itu.

Si kijang terus berusaha, ia menggoyang-goyangkan kepalanya agar tanduknya bisa terlepas. Tapi itu tak mudah, karena tubuhnya setengah tergantung, hanya kedua kaki belakangnya yang menapak tanah. Cukup lama kijang itu berjibaku dengan ranting-ranting pohon, hingga sebuah suara mengagetkannya.

“Ha, kena juga kau akhirnya! Susah payah aku mengejarmu tak sia-sia rupanya!”

Si pemburu berjalan tertatih menghampiri si kijang. Nafasnya terengah-engah akibat berkejaran dengan si kijang. Di sekanya peluh yang membanjir di wajahnya.

Si kijang panik. Dia meronta semakin kuat, tanduknya mengguncang-guncang ranting pohon. Banyaklah daun yang berguguran karenanya.

“Hahaha… hari ini aku akan makan enak. Dagingmu akan kupanggang untuk lauk.” Si pemburu semakin mendekat, diangkatnya parangnya. Ia akan menikam si kijang lalu disembelihnya dan dibawa pulang.

Parang si pemburu yang terangkat tinggi berayun ke bawah. Bersamaan, kijang itu berhasil melepaskan jeratan ranting pada tanduknya. Ia meloncat dan berlari sangat cepat. Parang pemburu itu mengenai tempat kosong. Dengan kecewa pemburu itu memandangi kijang yang semakin menjauh. Ia berdiri saja, sudah terlalu lelah untuk mengejar kijang itu.

“Syukurlah, aku terbebas dari bencana. Ternyata apa yang kumiliki tidak ada yang sia-sia. Aku tak akan lagi mengeluh dan merasa diriku kurang sempurna,” pikir kijang itu sambil terus berlari.

* * *

Penulis: Purwanto
Website: www.pagiini.com
Facebook: https://www.facebook.com/purwantondv

**

~ Editor ~
Terimakasih kepada Purwanto (Guest Post) yang telah mengirimkan Karya cerpennya. Hak Cipta Tetap Kepada Penulis yang Bersangkutan. Jika ingin karya anda seperti cerpen/artikel/pantun/puisi/lain-lain dipajang di blog ini, silahkan pergi KESINI untuk cara dan ketentuannya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Agen
One Comment

Leave a Reply